Ini Kata Dua Kades di Kecamatan Margaasih Tentang Bimtek ke Bali

Kades Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih H. Iip Saripulloh dan Kades Rahayu, Kecamatan Margaasih, H. Dadang Suryana
Kades Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih H. Iip Saripulloh dan Kades Rahayu, Kecamatan Margaasih, H. Dadang Suryana

Dejurnal.com, Bandung – Bimbingan Teknis (Bimtek) ke Bali yang dilakukan para kepala desa di Kabupaten Bandung beberapa hari lalu sudah tak lagi jadi “gunjingan.”

Namun, Kepala Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih H. Dadang Suryana, menyampaikan, masalah bimtek ke Bali bukan sekedar hura-hura, tapi merupakan program pemerintah yang berasal dari usulan desa.”Ada rekreasinya, tapi yang lebih pokok adalah ada bimbingan teknik tentang keterbukaan informasi, ” kata H. Dadang Suryana, Selasa (4/1/2022).

Menurut H. Dadang, kunjungan kunjungan ke beberapa desa dan Pemda di Bali, ada memang bisa dijadikan contoh dalam menggali PAD.

“Makanya hasil bimtek itu kembali kepada kepala desa masing-masing. Harapannya pemerintah daerah Kabupaten Bandung dan para kepala desa yang kemarin melaksanakan bimtek ke Bali itu bisa menerapkan apa yang didapatkan di Bali dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan hasil desa, emeski pun dalam hal ini sekarang memang kondisinya sedang Covid-19, ” jelasnya.

Baca Juga :   51 Orang Warga Desa Rahayu Positif Covid-19 Kades Himbau Warganya Patuh Prokes

Dari 270 desa, kata H. Dadang, yang tidak ikut hanya 12 orang. “Bagi yang tidak ikut, tudak masalah, hanya saja anggaran yang telah dialokasikan untuk pelatihan atau bimtek itu, sebesar Rp 9 juta harus bisa dipertanggungjawabkan. Yang tidak ikut diharap bisa mengembalikan,” ujarnya.

Sementara, Kepala Desa Mekarrahayu, kecamatan setempat, H. Iip Saripulloh mengungkap pengalamannya selama bimtek di Bali. Menurutnya, memang sulit jika meniru kebiasaan warga desa di Bali yang dari apa pun bisa punya nilai jual untuk cendramata wisatawan.

“Dari ranting yang jatuh saja warga di sana bisa memanfaatkannya untuk cendramata, ” imbuhnya.

H. Iip pun menyampaikan, warga di Bali masih sangat patuh terhadap aturan, apalagi terhadap adat istiadat, sehingga ketika aturan larangan kegaitan di masa pandemi diberlakukan, tempat wisata di sana begitu sepi.

Baca Juga :   Pemdes Pasirsari Bersama Karang Taruna Sediakan Fasilitas Wifi Gratis Bagi Siswa Belajar Daring

“Baru waktu ada bimtek saja hotel dan objek wisata mulai dibuka. Makanya, mereka (warga) sangat senang dengan kedatangan kami,” kata H. Iip.

Sementara, 2 orang yang tidak mau disebut namanya dari 12 kepala desa yang tidak ikut dalam bimtek ke Bali, salah satunya mengatakan, anggarannya digunakan untuk bimtek ke Bali, tapi diwakilkan oleh salah satu aparat desanya, karena pas kebetulan mau berangkat, ada salah satu anggota keluarganya harus dirawat di rumah sakit.

Sedangkan yang satunya lagi mengaku, tidak ikut ke Bali karena lebih mempertimbangkan kondisi pandemi yang masih belum pulih benar. Namun, ia tak menyebut bagaimana anggaran yang tidak dialokasikan untuk bintek.*** Sopandi.

Video Pilihan