Anak Ibarat Gelas, Ini Pesan KH. Sofyan Yahya pada Ortu Siswa Darul Ma’arif

KH. Sofyan Yahya, MA Pimpinan Yayasan Ponpes Darul Ma'arif Rahayu, Kec. Margaasih Kab. Bandung.
KH. Sofyan Yahya, MA Pimpinan Yayasan Ponpes Darul Ma'arif Rahayu, Kec. Margaasih Kab. Bandung.

Dejurnal.com, Bandung – Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ma’arif, Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung KH. Sofyan Yahya, MA menyampaikan amanat kepada kepada orang tua siswa yang menitipkan anaknya untuk menuntut ilmu di Yayasan Ponpesna, agar dalam menitipkan anaknya itu sebaiknya menemui guru-gurunya.

KH. Sofyan mengumpamakan, murid yang dititipkan di Darul Ma’arif itu sebagai gelas yang kosong. “Nanti di sekolah oleh guru diisi. Ada kopi diisi kopi, ada susu diisi susu, ada air bening diisi air bening. Tapi jika gelas itu kotor, jangan hanya guru nyang mencucinya, tapi orang tua juga harus ikut. Intinya menitipkan anak itu jangan begitu saja tidak dipedulikan, tapi harus sama-sama berperan,” katanya.

Baca Juga :   Korwil Pendidikan Pasirwangi Beberkan Kronologi Pemotongan Dana PIP SDN 3 Padaasih

Hal ini disampaikan KH. Sofyan Yahya saat Wisuda dan Tafaruqon siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan siswa Madarasah Aliyah (MA) Darul Ma’arif yang dilaksanakan di aula Yayasan Ponpes Darul Ma’arif, Sabtu (29/5/2021).

KH. Sofyan Yahya menambahkan, yang wajib mendidik anak itu orang tuanya. Hanya kalau orang tuanya terkendala keterbatasan ilmu pengetahuan atau tak ada waktu karena pekerjaan, ya dititipkan kepada yang terpercaya.

“Nah, ijin bertemu menitipkan anak itu sebagai tanggung jawab. Sebab nanti akan ditanya oleh Allah bagaimana tanggung jawab otang tua mendidik anaknya. Kalau begitu ketika Allah bertanya bagaimana kawajiban orang tua mendidik anak itu sudah diamanatkan sekolah, ke guru-gurunya,” kata KH. Sofyan.

Baca Juga :   Jadi Motivasi Siswa Belajar Di Rumah, Ketua PKBM Apresiasi Gelar Lomba Kreatifitas Disdik Garut

Dalam mendidik anak, menurut KH Sofyan pihak sekolah ibarat yang tengah menumbuk padi . Padi dalam lesung berulang-ulang ditumbuk itu bukan berarti benci atau marah terhadap padi, tapi tujuannya mau memisqhkan kulit dengan isinya.

“Nah, di Darul Ma’arif juga begiu. Anak dididik digembleng untuk dipisahkan kulit degan isinya. Artinya kulit itu tidak ada gunanya atau kabodohan, sedengkan isinya kepandaian atau yang berguna,” tandas KH. Sofyan.*** Sopandi

Video Pilihan