Nama KH. Hasyim Asy’ari Hilang Dalam Kamus Sejarah, Ini Kata Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar

Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, H. Abdul Hadi Wijaya
Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, H. Abdul Hadi Wijaya

Dejurnal.com, Bandung – Ramainya pemberitaan hilangnya nama KH. Hasyim Asy’ari dalam sejarah membuat Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, H. Abdul Hadi Wijaya ikut berkomentar bahwa hal itu memukul perasaan keluarga dan jamiah NU.

Menurut Abdul Hadi Wijaya yang juga keturunan kelima dari KH. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan sejarah sudah mencatat bahwa Eyang Hasyim adalah bapak bangsa.

“Setiap pesantren dan tokoh agama ketika ditanya tentang beliau pasti baik dan memberikan doa baik,” ujarnya.

Lanjut anggota DPRD dari Fraksi PKS yang akrab dipanggil Ahad ini menerangkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah penggagas dan deklarator resolusi jihad pada 22 September 1945 sehingga menjadi motor atau jiwa terjadinya pertempuran 10 November yang dikenal sebagai hari pahlawan.

“Ini fakta sejarah yang tak bisa dibantah, bahkan sudah diimplementasikan menjadi Hari Santri Nasional,” tegasnya.

Menurut Ahad, hilangnya nama KH. Hasyim Asy’ari sesungguhnya mencederai hati keluarga, seluruh pesantren dan juga nahdliyin dan bangsa, namun demikian beliau (semoga) sudah tercatat oleh Allah wafat sebagai suhada dan setiap hari orang selalu mendoakannya.

“Upaya pencoretan nama beliau dari nama pahlawan dan sejarah indonesia tak akan mempengaruhi apal yg beliau lakukan, itu upaya  lebih ke arah politik,” tandasnya.

Lanjut Ahad, hal itu tak akan mempengaruhi cinta kepada beliau demikian juga umat Islam dan di ssisi Allah tak akan tergeser. “Silahkan orang tak suka pada beliau tapi sejarah sudah mencatat tak akan menggeser posisi yang sudah beliau coret dalam tinta sejarah,” ujarnya.

Namun demikian, Ahad menandaskan sebagai bangsa yang menghargai dan tidak lupa pada sejarah, sudah sewajarnya hal seperti itu tak patut terjadi.

“Seharusnya justru bisa dikembalikan bahkan dilengkapi,” ujarnya.

Ahad berharap momuntem adanya ini semoga membuat umat menjadi bangkit lagi, merasa ada upaya-upaya pata pihak yang tak ingin eksistensi ulama, santri pesantren dan umat Islam secara umum dihilangkan.

“Allahumahuwafik illa torik, semoga bermanfaat,” pungkas Ahad.***Raesha/HP