Jelang Ramadan, Oknum Guru Ngaji Tega Cabuli Enam Muridnya

Ilustrasi pencabulan.
Ilustrasi pencabulan.

Dejurnal.com, Bandung – Menjelang memasuki bulan Ramadan tahun 2021 ini, seorang oknum guru ngaji berinisial AS (44) diamankan polisi setelah dirinya dilaporkan melakukan pencabulan terhadap enam anak di bawah umur.

Pelaku AS mengaku tidak mampu menahan berahi, dan beralasan sudah lama tidak berjumpa dengan istrinya sehingga tega melakukan tindak asusila tersebut.

Satuan kepolisian mengamankan AS di masjid di Jalan Setiabudi, Kota Bandung. Selain bekerja sebagai guru ngaji, AS pun dikenal sebagai marbot di masjid tersebut.

“Sekitar tanggal 4 april 2021, Polsek Cidadap menerima laporan pencabulan yang dilakukan oleh saudara AS. Pekerjaannya sebagai penjaga tempat ibadah di Hegarmanah,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Adanan Mangopang saat mengungkap kasus di Mapolrestabes Bandung, Senin, (12/4/2021).

Baca :   Pelaksanaan Reservoar, Perumda Tirta Raharja dapat Pendampingan Hukum dari Kajari Bandung

AS sudah melakukan aksinya sejak awal Maret. Setiap anak yang jadi korbannya diiming-imingi uang jajan supaya para korban mau menghabiskan waktu bersamanya.

“Korban diiming-imingi uang Rp3.000,” kata Adanan.

Enam korban pencabulan AS tergolong sebagai anak di bawah umur. Mereka adalah murid AS sendiri, yang biasa belajar mengaji kepada dirinya.

“Ada enam anak yang jadi korbannya, rata-rata umur korban tujuh sampai sepuluh tahun,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Adanan Mangopang.

AS mengaku dirinya tega melakukan aksi cabul tersebut karena sudah lama tidak bertemu sang istri, karena tidak lagi tinggal serumah.

“Saya udah lama …. Saya tinggal sendiri, istri di kampung,” ujar AS saat ditanyai motif perbuatannya.

Baca :   Pengusaha Bata Merah Itu Sah Jadi Dalem Bandung 1

Akibat perbuatannya, AS dijerat Pasal 82 ayat (1) Jo pasal 76E UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak. AS pun terancam hukuman di atas lima tahun penjara.

“Pelaku terancam pidana paling singkat lima tahun, dan maksimal lima belas tahun dengan denda paling banyak Rp5 miliar,” pungkas Adanan.***