Kemudahan Aplikasi Ojol, Tak Berbanding Lurus Dengan Nasib Drivernya

Dejurnal.com, Cianjur – Modernisasi di segala bidang sudah tak terbantahkan lagi, segala sesuatu dipermudah, termasuk dalam bidang transportasi ojeg online (ojol).

Di dalam aplikasi ojeg online segala sesuatu kebutuhan bisa diatur dirumah oleh customer (cs), termasuk pesanan barang dan makanan diantar langsung oleh driver ke rumah customer

Aplikasi tersebut sangat membantu customer yang malas keluar, serta males membawa kendaraanya sendiri

Tidak berbanding lurus dengan keadaan kehidupan ekonomi driver itu sendiri, dimana hidupnya, selalu pas pasan, padahal jam kerja driver tidak dibatasi waktu dan cuaca, tidak peduli hujan ataupun panas mereka (driver-red) tetap bekerja mengantarkan pesanan barang atau makanan customer

Tidak ada jaminan sosial, tunjangan kesehatan, kecelakaan, kesejahteraan, padahal mereka rawan sekali dengan tindak kejahatan begal ataupun laka lantas

Mereka seperti robot pekerja yang dipaksa bekerja oleh sistem aplikasi yang tidak menguntungkan mitranya, dalam hal ini driver ojol, kata-kata mitra yang seharusnya sejajar dengan pihak aplikator, hanya hiasan bibir saja

Kehidupan para driver sangat memprihatinkan, apalagi dalam kondisi PSBB yang diperketat kembali, untuk pencegahan penularan covid-19, dampaknya sangat terasa sekali oleh para driver

Seperti yang di alami Rakhmat (37), driver ojek online dirinya beserta keluarga harus rela meninggalkan tempat kontrakan, karena tidak bisa membayar kontrakan selama 4 bulan

“Iya m4ang, saya kesian sama anak isteri saya, mereka harus tidur dimana, apalagi saya masih memiliki anak kecil, apalagi saat ini lagi musim hujan, terpaksa saya harus numpang dirumah mertua, meski tempatnya sempit yang penting tidak tidur dijalanan ” tutur Rakhmat sambil menunjuk kearah rumah mertuanya

Tidak berbeda jauh dengan kondisi Rakhmat, Pupung (54) Tahun, harus merelakan motor kesayanganya, satu-satunya sumber penghidupanya, diamankan pihak lising, karena 5 bulan tidak mampu bayar setoran cicilan motor, motornya bisa diambil kembali minimal jika setengahnya dari angsuran dibayarkan ke pihak lising

“Motor itu satu-satunya sumber penghasilan saya saat ini Kang, jika motor tiada bagaiamana cara saya menghidupi keluarga saya, saat ini memcari pekerjaan sulit, apalagi di usia saya yang sudah paruh baya seperti ini Kang,” ujar Pupung dengan tatap mata penuh pengharapan, esok lusa penghidupanya akan lebih baik. ***Arkam