Potensi Seni dan Budaya Desa Sukanagara Perlu Dikembangkan

Hajat Lembur, tradisi menyambut musim hujan di Desa Sukanagara.
Hajat Lembur, tradisi menyambut musim hujan di Desa Sukanagara.

dejurnal.com, Bandung – Sekelompok masyarakat di RW 09, Desa Sukanagara, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung masih memegang adat tradisi Hajat lembur. Tradisi ini dilakukan setiap datang musim hujan, sebagai tanda “ngabagèakeun” (menyambut).

Masyarakat berkumpul dengan mengumpulkan berbagai makanan dan bersama-sama memakannya di sebuah pelataran. Wajar jika adat tradisi ini masih dilakukan, karena mayoritas warga Desa Sukanagara mata pencaharianny bertani. Letak geografis perbukitan menjadikan lahan tanah di Suknagara cocok untuk tanaman palawija.

Selain itu, potensi seni dan budaya di Desa Sukanagara sangat banyak yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata seni dan budaya. Menurut Kepala Desa Sukanagara Agus, ada 27 komunitas seni budaya didesanya yang menjadikan desa tersebut menjadi salah satu yang dijuluki desa Kampung Seni Budaya.

“Ada banyak pegiat seni budaya di desa ini. Tercatat 27 komunitas seni budaya. Ada yang giat pada kesenian reog, calung, malahan di bidang penvak silat prestasinya ada yang tingkat provinsi,” ujar Agus di kantornya, Kamis (5/11/2020).

Belum lama ini, lanjut Agus di kantor desanya diselenggarakan acara Dialog Budaya yang diinisiasi oleh Radio Republik Indonesian(RRI), dengan menghadirkan beberapa nara sumber tokoh seni budaya masyarakat setempat.

“Acaranya disiarkan langsung oleh RRI. Ini acara RRI, kita hanya menyediakan tempat, dan beberapa tokoh kesenian di sini jadi nara sumber. Yang saya tangkap dari dialog budaya ini, yaitu memperkenalkan kesenian tradisipnal dan kebudayaan yang masih eksis di Desa Sukanagara kepada kaum milenial, agar mereka kenal dan mencintai serta turut melestarikan,” pungkas Agus.***Sopandi