Teh Nia : Produksi Gerabah Kampung Legoknyeneng Bisa Jadi Ikon dan Destinasi Wisata

Kurnia Dadang Naser (tengah)

dejurnal.com, Bandung – Jika produksi gerabah di Kampung Legoknyenang RT. 01 RW 02 Desa Bandasari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung didukung oleh semua pihak, produksi gerabah tersebut akan menjadi ikon dan Kampung Legoknyeneng akan menjasi destinasi pariwasata pengrajiin gerabah. Meski sederhana tempat dan sumber daya manusianya, namun masyarakat disana mampu menghasilkan sesuatu yang lumayan rapi, etnik dan juga berpotensi. Jika didukung tempat tersebut ke depannya bisa dijadikan destinasi wisata.

Demikian disampaikan Hj. Kurnia Agustina saat melakukan kunjungan silaturahmi dengan masyarakat di sana, Senin (19/10/2020).

Calon Bupati Bandung nomor urut 1 ini mengaku terkesan dengan pengrajin disana. Teh Nia, demikian sapaan akrabnya kagum dengan karya pengrajin. Menurutnya potensi tersebut harus digali dengan maksimal.

“Apalagi tadi Si Abah bilang terkait bahan baku, ternyata kasihan teman-teman pengrajin ini belum diberikan semacam perlindungan untuk mereka bisa leluasa berkreasi, bahan baku yang tersedia dan ada,” tutur Teh Nia.

Teh Nia mengungkapkan jika semua pihak mau duduk bersama, maka gerabah ini bisa menjadi ikon dan Kampung Legoknyenang ini bisa menjadi salah satu destinasi. Apalagi, jika para anak muda dan karang tarunanya ikut menggali potensi gerabah ini dengan berbagai macam kreasi anak muda. “Ini bisa jadi destinas buah tangan dalam rangka ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Ecep Sudana (35), seorang pengrajin gerabah mengaku, ia memproduksi gerabah sudah 20 tahun lebih. Ada beberapa kendala yang dialaminya seperti sulitnya mendapatkan bahan baku gerabah yaitu tanah liat. Ia bekerja sama dengan petani untuk mendapatkan bahan baku tanah liat tersebut.

“Jadi saling memanfaatkan dan bekerja sama, yang petani punya buat menyiram tanaman, saya dapat tanahnya. Kendala yang kedua paling alat buat ngadon, bikin adonan tanah, seperti cetakan sistik, dan kendala yang ketiga paling permodalan,” tutur Ecep.

Dalam memasarkan produk, Ecep menjelaskan produsi pendil dikirim ke rumah sakit dan bidan, sedangkan cetakan serabi dikirim ke pasar-pasar. Ia bersyukur pemasaran bisa berjalan lancar. Dirinya mengirim hasil produksinya ke Bandung, kemudian oleh pembeli, kata Ecep, bisa dikirim kembali ke Bali, Sumatera, Medan, dan Palembang.

“Selama ini belum ada kerjasama dengan pemerintah atau siapapun, saya juga belum mengajukan, makanya ibu Nia kesini mau mencurahkan isi hati, jadi gimana-gimananya,” pungkas Ecep.***di