Peringatan Maulid Nabi Di Situs Bumi Alit Kabuyutan, Bupati Bandung : Ajaran Langit Diungkap Lewat Bahasa Adat Budaya

Dejurnal.com, Bandung – Peringattan Maulid Nabi Muhammad SAW di
Situs Bumi Alit Kabuyutan Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung diungkapkan dengan bahasa budaya. Seperti disampaikan dalam paparan ungkara “babaran mulud” H. Oman Rohman Hidayat sesepuh Sasaka Waruga Pusaka, lembaga yang memelihara situs tersebut.

Menurut H. Oman, inti dari paparan ungkara yang disampaikan dihadapan ratusan tamu undangan itu ialah, bagaimana keharusan manusia dalam prilaku hidup, menjalankan hubungan sesama manusia dan dengan Tuhannya, jangan sampai “nukang nonggong” (bertolak belakang). Harus sabilulungan dan berakhlakulkarimah, menjadi patokan pedoman hidup.

Bupati Bandung Dadang Naser yang hadir pada acara tersebut, menilai ungkara yang disampaikan Itu merupakan kalamulloh, suara langit yang dipaparkan dalam kaca mata adat budaya.”Tadi dikatakan gula jeung amisna, Sunda sekarang ada ‘jentulna’ (wujudnya) tapi nilainya sudah hilang. Mari kita kembalikan jati diri Sunda supaya seperti ada wujud gula dengan manisnya,” kata Dadang Naser.

Baca :   Kang DS : Harus Banyak Tanam Pepohonan untuk Tekan Dampak Puting Beliung

Sabilulungan, lanjut Dadang seperti bhineka tunggal Ika: berbeda tapi satu, satu meski berbeda. Berbeda adat budaya tetapi saling hargai. Bhineka Tunggal Ika melahirkan Pancasila dengan uraian-uraiannya.

“Sabilulungan saya akronimkan Sa: sabar, bukan berarti diam, tapi sabar bekerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas. Inovatfi. Bi: bijaksana, hidup harus sesusui tetekon (aturan). Lu: luhung elmu, jembar ku pangarti, Lu: luhur akal budi pekerti, depe-,depe handap.asor, ka saluhureun hormat, ka sasama silih hargaan, ka sahandapeun nyaaahan. Ngan: ngancik elmu dina diri. Seperti tadi dikatakan sesepuh, iman itu ada dalam diri kita,” terang Dadang.

Bumi Alit Kabuyutan dengan budayanya, lanjut Dadang Naser, merupakan aset yang tak terhingga nilainya, sehingga perlu diabadikan. Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) siap membantu sesepuh pemelihara situs dalam upaya melestarikan budaya tersebut.

Baca :   Upaya Lestarikan Seni dan Budaya Sunda, Kang DS Dukung Mulok Sekolah

“Jika ingin jadi destinasi wisata, minimal satu kilo meter di lingkungan situs Kabuyutan kontruksi bangunannya sama, minimal bentuk atapnya,” katanya.

Situs Bumi Alit Kabuyutan, salah satu dari 111 situs yang ada di Kabupaten Bandung. Di Bumi Alit ini tersimpan benda senjata pusaka peninggalan nenek moyang Sunda. Setiap tanggal 12 Mulud, benda pusaka seperti keris, kujang, tombak, pedang, skin, basik dan lain-lain dicuci dalam upacara Ngarumat Benda Pusaka sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Salah satu Ais Pangampih Lembaga Sasaka Waruga Pusaka, Itang Wismana menuturkan, selain ngarumat benda pusaka dalam acara itu pula dirumat Goong Renteng Embah Bandong yang asli, gambelan yang dianggap keramat ini hanya setahun sekali ditabuh, sedangkan yang ditabuh pada acara festival atau kenduri lainnya adalah duplikatnya.

Baca :   Jelang Ramadan, Oknum Guru Ngaji Tega Cabuli Enam Muridnya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad tahun ini, yang bertepatan dengan Kamis (29/10/2020) di Bumi Alit Kabuyutan, selain dihadiri Bupati Bandung juga hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan H. Yosep Nugraha beserta Kabid Kebudayaan Aten Sonadi, unsur Muspika Kapolsek Arjasari, Camat Arjasari Heru Kiatno beserta para kepala desa se Kecamatan Arjasari, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupatten Bandung (DKKB) Dian Hendrayana serta beberapa anggotanya , tokoh masyarakat dan ratusan warga memadati pelataran yang teduh di seputar Balai Kabuyutan.***Sopandi