Bupati Bandung Diminta Klarifikasi Bawaslu Terkait Dugaan Kampanye

dejurnal.com, Bandung – Bupati Bandung Dadang M Naser dimintai klarifikasi Bawaslu Kabupaten Bandung melalui aplikasi zoom. Ia mengatakan undangan klarifikasi tersebut berkaitan dengan dugaan dirinya melakukan kampanye di Desa Panyocokan dalam rangkaian acara hajat tahunan huluwotan di desa tersebut.

“Di acara itu saya memberi apresiasi terhadap agenda tahunan di Desa Panyocokan, ada gelar budayanya, ada adat lembur dalam rangka menjaga mata air, Saya respon itu luar biasa Desa Panyocokan tiap tahun melakukan hajat huluwotan,” ujar Dadang M Naser usai melakukan klarifikasi lewat aplikasi zoom dengan Bawaslu Kabupaten Bandung di kantornya, Komplek Pemkab Bandung, Soreang, Rabu (14/10/2020).

Usai menyampaikan pidato mengapresiasi bagaimana penataan huluwotan supaya bisa dijadikan destinasi wisata, Dadang Naser menyampaikan beberapa hal terkait persiapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang akan dilaksanakan di Kabupaten Bandung pada tanggal 9 Desember 2020.

“Terakhir saya menyampaikan tentang persiapan Pemilukada sekaligus saya pamitan menjadi Bupati yang akan berakhir di bulan dua tahun 2021. Sementara pemilihan bupatinya saya sampaikan akan dilaksanakan tanggal 9 Desember,” kata Dadang Nasir.

Dadang menyebutkan,. dirinya melakukan sosialisasi tentang akan dilaksanakannya pesta demokrasi Pilkada Kabupaten Bandung pada 9 Desember 2020. Hal ini, kata Dadang merupakan kewajiban seluruh aparatur pemerintahan sampai ke tingkat kepala desa.

“Apalagi Pilkada kali ini merupakan pemilihan umum bersyarat ditengah pandemi covid-19, dimana para ahli pengamat telah menyampaikan prediksi akan ada pengurangan partisipasi politik. Karena itu, dalam rangka pembangunan di bidang politik, pemerintah harus berupaya mendorong masyarakat agar menyalurkan hak pilihnya pada Pilkada nanti,”‘jelasnya.

Salah satu langkahnya, Dadang Naser memaparkan kepada masyarakat bahwa dalam Pilkada nanti ada tiga pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang harus dipilih. Ia pun menjelaskan tentang siapa saja tiga pasang calon tersebut termasuk latar belakang mereka agar masyarakat mengetahuinya.

“Saya menjelaskan, silahkan pilih nomor satu, dua, atau tiga, disitu ada perang bintang, siapa nomer tiga, siapa nomer satu, siapa nomer dua. Nomor satu itu pasangan NU Pasti Sabilulungan itu taglinenya atau jargonnya , yang kedua jargonnya Dahsyat, dan yang ketiga itu Bedas,” tutur dia.

Dadang melanjutkan, dalam kesempatan tersebut, dirinya menjelaskan siapa itu pasangan Nu Pasti Sabilulungan, pasangan Dahsyat, dan juga pasangan Bedas.

“Bedas calon bupatinya adalah Dadang Supriatna yang tadinya kader Golkar, dibesarkan oleh Golkar pindah ke PKB menjadi calon bupati di Bedas, beliau orang Tegalluar Bojongsoang, berpasangan Sahrul Gunawan, artis sinetron, pemain sinetron, jago sinetron, bintang sinetron orang Bogor, yang kedua adalah Ibu Yena putranya Al Masoem yang beralamat di Rancaekek berpasangan dengan Pak Atep, bintang sepakbola, mantan pemain persib jago sepakbola, dan pasangan nomer satu itu adalah NU, yaitu Teh Nia orang Ciparay, mantan pacar alias istri saya, berpasangan dengan Usman Sayogi, orang Soreang, 31 tahun mengabdi di pemerintahan, berarti dia itu bintang pemerintahan,” papar Dadang.

Dadang Naser mempersilahkan masyarakat untuk pilih kelir acak corak, dari ketiga pasangan tersebut masyarakat akan memilih siapa, itu harus sesuai hati nurani. Selain itu, Dadang juga meminta wartawan untuk menyampaikan informasi tersebut. Agar pada saat 9 Desember partisipasi menguat dan jangan sampai turun. Artinya, ada kesadaran untuk menyampaikan hak pilihnya.

“Saya sampaikan seperti itu, klarifikasi saya di acara pesta Hajat Huluwotan. Itu saja dari saya, konfirmasi sudah dilakukan. Bawaslu tanya, tagline tiga paslon benar ? Saya bilang benar. Itu nomor satu Nu Pasti Sabilulungan. Nomor dua Dahsyat dan nomor tiga Bedas. Saya sadar ? Sadar. Saya sehat ? Sehat. Saat pidato saya rasa tidak ada kecondongan. Silahkan saja ukur. Tiga-tiganya saya sampaikan,” pungkas Dadang. *** Sopandi