Hadapi Pandemi Covid-19, Warga Cianjur Keluhkan Hidup Semakin Terasa Berat


Dejurnal.com, Cianjur – Pandemi Covid 19 yang tak kunjung mereda, dampaknya sangat terasa oleh pelaku usaha kecil dan menengah, dimana daya beli masyarakat sudah sangat turun drastis.

Seperti yang dikeluhkan Raka warga Kp. Batudatar Rt. 01/09 Desa. Sukaratu Kec. Gekbrong yang memiliki usaha bengkel di Gekbrong. Ia mengeluhkan dari pagi cuma ada satu orang pengunjung, sedangkan biaya hidup setiap hari harus ada, ditambah biaya sewa tempat bengkel tiap bulan.

“kemaren-kemaren dampak corona tidak begitu terasa, tapi sekarang dampaknya begitu berat, untuk menutupi biaya sehari-hari dan sewa tempat saja saya harus putar otak sebisa-bisa , tolonglah jika ada bantuan terkait permodalan dari pemerintah kasih tahu saya,” ungkap RK sambil meminum kopinya yang sudah dingin secara perlahan.

Ditempat yang berbeda Pepe seorang pengemudi ojol mengeluhkan hal yang serupa.

“Hadeuhhh pusing, dari pagi sampai siang begini cuma dapat satu orderan,” keluhnya sambil menatap terus HPnya dan berharap ada orderan masuk.

“Dalam hal ini memang pemerintah tidak menutup mata, pemerintah menggelontorkan Bansos yang sembilan pintu, tapi sayang penyaluran di lapangan, Dana Bansos diduga tidak tepat sasaran, masa orang punya mobil dapat BLT,” celoteh UP seorang seorang penjual kopi sambil mengaduk kopi pesanan.

Masyarakat secara umum bisa dimaklumi jika berbicara seperti itu, karena tidak memahami bahwa yang terkena dampak Covid bukan kalangan menengah dan bawah saja, semua kalangan merasakanya, seperti yang dialami MK seorang pengusaha toko grosir sembako di Cipanas.

“Usaha saya sekarang lagi turun Mas, yang biasa beli mie instan sepuluh box sekarang turun cuma 2 box, daya beli masyarakat benar-benar menurun Mas dampak dari covid ini sungguh luar biasa,” ungkapnya sambil menawarkan rokok

Sementara Usm menuturkan bahwa sudah hampir lima bulan dirinya kerja serabutan termasuk ada yang ngajak kuli bangunan.

“Kecuali ngajak mencuri saya tolak Kang, takut digebukin orang, saya biasanya dagang cilor (aci telor) disekolah, karena di masa vandemik ini sekolah tutup saya nyaris tak punya penghasilan Kang,” kenang USM seorang pedagang cilor yang biasa mangkal disekolah.

Yang menjadi harapan mereka Pemerintah secepatnya mengatasi pandemik ini, agar perekonomian Masyarakat kembali menggeliat, dan rata-rata dari mereka mengharapkan bantuan sosial (BANSOS) guna menutupi kebutuhan mereke untuk sementara, meski sebenarnya mereka semua tidak mau mengandalkan kehidupanya pada orang lain, mereka adalah petarung tangguh, para pejuang kehidupan untuk keluarganya. ***Hers