Belum Tersentuh Jabar Caang, 18 Tahun Rumah Ma Odah Remang-Remang Diterangi Lampu Cempor

deJurnal.com, Tasikmalaya – Program Jabar Caang yang rencananya akan mampu menyentuh daerah terpecil ternyata belum sepenuhnya terpenuhi. Pasalnya, salah satu rumah yang terletak di Kampung Gadel Rt 04 Rw 03 Desa Kersamaju Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya, hampir 18 tahun dalam keadaan remang-remang ketika malam hari bahkan cenderung gelap gulita karena belum tersambung aliran listrik.

Penelusuran dejurnal.com, Kampung Gadel memang cukup jauh dari pusat perkotaan tetapi akses jalan sudah memadai sehingga cukup mudah menuju kampung tersebut.

Agak terpencil jauh dari tetangga terdapat satu rumah panggung berbahan bilik dan kayu, disitulah Abah Udi (81) bersama istrinya Ma Odah tinggal tanpa ada lampu penerangan listrik walaupun warga lain di sekitarnya sudah mendapatkan aliran listrik. Untuk menerangi rumah di malam hari, Abah Udi dan Ma Odah mengandalkan penerangan dengan menggunakan lampu cempor (lentera).

Abah Udi dan Ma Odah, Warga Kampung Gadel Cigalontang Tasikmalaya yang 18 tahun tak pernah menikmati terang benderangnya lampu listrik di rumahnya.

Menurut Odah (66) istri Abah Udi ketika di temui dejurnal.com di rumahnya menuturkan bahwa semenjak tinggal menghuni rumah selama 18 Tahun belum pernah menikmati aliran listrik.

“Ya, untuk sehari-hari menggunakan lampu cempor dengan memakai bahan bakar minyak tanah dengan harga Rp 20 ribu per liter itu belinya juga jauh ke Cikuray dan harga 1 liter paling bisa di pakai 15 hari dan paling cepat 10 hari,” tuturnya.

Untuk mendapat pengaliran listrik dari PLN, Ma Odah mengaku merasa kebingungan karena harus mengeluarkan biaya besar, sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah mengalami kerepotan.

“Sekarang bapak sudah tidak bisa bekerja lagi karena sudah tua kasihan, untuk menambah penghasilan saya jualan daun pisang, sereh dan hasil dari kebon yang di tanam,” ujar Ma Odah lirih.

Ketika ditanya apakah dari pemerintah desa maupun dari PLN pernah mendapat bantuan? Ia menjelaskan untuk bantuan listrik belum ada yang memberikan bantuan baik kabel untuk menyambung aliran listrik maupun KWH dari PLN.

“Bantuan listrik belum ada, mungkin dikarenakan harus tarik kabel yang jaraknya jauh mencapai 100 meter,” ujarnya.

Kendati demikian, Ma Odah masih bersyukur, karena terbantu oleh PKH.

“Alhamdulillah kalau bantuan dari pemerintah desa, PKH itu ada,terus bantuan uang tunai, beras, telor, kentang dan buah-buahan di kasih pak …! ya…. haturnuhun kana bantosanana (terima kasih atas bantuannya), saya harap mudah- mudahan PLN memberi juga bantuan listrik kepada kami supaya terang kalau malam hari,” pungkasnya .***Wito/Red