Ditengah Penantian Bansos Tak Kunjung Tiba, Umi Elsa Pilih Motekar

Dejurnal.com, Garut – Sejak di berlakukannya surat edaran dan keputusan Bupati Gatut Penanganan dan Pecegahan Virus Corona / COVID -19 di Kabupaten Garut, bagi masyarakat kecil tidak berpenghasilan tetap, cukup begitu terasa sulitnya hidup di Kabupaten Garut. Menunggu sang teknokrat memberi bantuan sosial hanya berjanji dan berjanji tidak ada ujung kepastian.

Sementara tuntuan hidup terus berjalan tidak bisa dihindari, bahkan di dalam hubungan rumah tangga sering terjadi pertengkaran, kini yang jadi pertanyaan seberapa besar kepedulian Pemerintah Daerah terhadap masyarakatnya atau sekedar buaian dan isap jempol saja?

Untuk mensiasati kondisi yang tidak menentu, entah sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Salah seorang Ibu Rumah Tangga Umi Elsa Siti Hasanah pilih motekar dengan membuka peluang usaha rumahan saat Pandemik Covid -19 untuk bertahan hidup.

Umi Elsa begitu jeli menangkap peluang usaha menjelang Ramadhan 2020 ini, buah kolang kali yang tumbuh subur di tanah Pasundan khususnya di Kabupaten Garut, akhirnya menjadi inspirasi peluang usahanya. Sehari saja awal pengiriman Umi Elsa membutuhkan buah kolang kaling satu ton.

Umi Elsa Siti Hasanah yang diketahui sebagai salah satu tenaga Honorer Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, mengatakan kepada Dejurnal.com di kediamannya Jalan Patriot Kelurahan Sukagalih Kec. Tarogong Kidul Kab. Garut.

“Berawal Umi sih ingin membantu beban suami, yah kan dapur mah mesti ngebul, anak anak butuh jajan, sementara pendapatan suami hampir nihil, Umi hanya sekedar honorer gajinya sudah kebayangkan, sementara menunggu bantuan sampai saat ini mana kan ga ada belum turun juga,” Ujarnya, Minggu (19/04/2020).

Lanjut Umi Elsa, dirinya ngobrol sama suami dan setelah dapat izin, saya mencoba kordinasi sama keluarga.

“Alhamdulillah stok banyak kan, saya coba minta dikirim satu ton dulu, Alhamdulillah habis, ada sedikit lebih dari penghasilan jualan dikumpulkan dan Alhamdulillah kemari Jumat kita bisa berbagi berkah,” jelas Umi Elsa.

Sementara itu, Abah Fahrul merasa bangga atas kepedulian dan inisiatif terbosan usaha yang dilakukan oleh Umi Elsa salah satu Ibu Rumah Tangga dan Tenaga Honorer ini. Semestinya hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah, khususnya Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TP2K) Kab. Garut. Pemda tidak sekedar memberikan wacana dan harapan angin kosong, yang akhirnya membuat krisis moral, sosisal, ekonomi, dan politik, semua akibat perut kosong. Pemerintah harus bertanggung jawab atas kondisi ini.

“Jangan sampai akhirnya Kedaruratan Kesehatan Covid -19, jadi Darurat Sipil bahkan jadi Darurat Militer ini akan lebih berbahaya. Kondisi ini jangan sampai akhirnya dimanfaatkan oknum oknum tertentu,” Jelas Abah Fahrul.

Lebih lanjut Abah Fahrul mengatakan, jika memang bantuan dari Pusat dan Propinsi belum turun, Pemda segera gulirkan Anggaran BTT 2020 kemana Anggaran yang Puluhan Milyar tersebut , jangan sampai terkesan alasan untuk membantu warga masyarakat yang saat ini dalam kondisi kesulitan hanya sebagai alat barter saja, dan perlu menjadi catatan Pemda Garut, Ketua Gugus Tugas Covid -19 dan Khusus Ketua TP2K, masyarakat tidak sekedar butuh masker dan sejenisnya tapi, ada yang lebih harus di perhatikan perut masyarakat sudah kosong, apalagi sampai saat ini masih banyak Desa belum pencairan Dana Desa dan IP 2020.

“Ingat kalian dipilih oleh rakyat jangan sampai kalian dihakimi oleh rakyatmu sendiri karena egosentris kalian, bentuk segera regulasi tepat guna, buat apa kami pilih kalian kalau sekedar memanfaatkan masyarakat, mana Visi Misi Kab. Garut Beriman Bertaqwa dan Sejahtera,” Pungkasnya.***Yohaness