H. Aceng Salman Haris Kritisi Acara Bubos Garut

Dejurnal.com, Garut – Tanggal 25 Mei lalu, Bupati dan Ketua TP PKK Kabupaten Garut mengadakan acara BUBOS (buka bersama on the street) di pendopo Kabupaten Garut dengan mengundang masyarakat Garut khususnya kaum dhuafa. Tampak hadir dalam acara tersebut Bupati – Wakil Bupati beserta istri, para Kepala SKPD, Unsur Forkompimda, Kepala kemenag dan Ketua MUI Kabupaten Garut beserta kaum dhuafa yang didominasi para ibu-ibu yang membawa anak-anaknya.

Ketua TP PKK Kabupaten Garut, Diah Kurnitasari dalam sambutannya mengatakan, Bubos ialah buka puasa bersama antara pemerintah dengan masyarakat yang dilaksanakan di jalan, dan sudah tiga kali dilaksanakan serta tujuannya, memuliakan Al Quran, memperkuat ukhuwah dan menghadirkan cinta.

Namun acara Bubos ini mendapat sorotan tajam dari salah satu tokoh agama Kabupaten Garut asal Margawati, H. Aceng Salman Haris. Ia mengkritisi pelaksanaan Bubos setelah tahu di acara tersebut warga kaum dhuafa berjejalan menunggu pemberian amplop dengan meninggalkan kewajiban yang fardu yaitu shalat.

“Asolaatu imaa dudin, shalat itu tiangnya agama, sementara sedekah atau infaq diibaratkan langin-langit, mau nempel gimana langit-langit tanpa tiang, mau jadi amal gimana jika di acara itu pada meninggalkan shalat, pekerjaan itu jadi sia-sia,” tuturnya.

Aceng Salman melanjutkan, setelah syahadat, shalat yang kedua, ketiga zakat dan keempat puasa, dan terakhir naik haji, ketika ada orang yang mendahulukan nomor akhir dan mengakhirkan yang awal bahkan mengabaikan, hal ini menunjukan ketidaktertiban.

“Dalam ilmu fiqih tidak sah mendahulukan yang terakhir dan mengakhirkan yang dahulu, seperti halnya berwudhu mendahulukan membasuh kaki dan mengakhirkan membasuh wajah, kan jadi tidak sah,” ujarnya.

Dalam pandangan Aceng Salman, bisa saja yang hadir di acara Bubos tersebut sholat di rumahnya masing-masing, namun alangkah lebih baik jika dilakukan shalat berjamaah, apalagi jika kemudian dari magrib disambung dengan shalat isya dan taraweh berjamaah.

“Jika bisa demikian, acara Bubos yang didalamnya ada sedekah menjadi lebih afdol, dan itu jadi suri tauladan juga untuk masyarakat Kabupaten Garut,” pungkasnya.

Pantauan dejurnal.com pada saat itu, ribuan warga yang hadir memang cenderung lebih fokus terhadap pembagian bingkisan atau amplop yang disediakan oleh panitia, warga berebut dan berdesakan demi amplop tersebut, sehingga lupa kewajibannya sebagai umat muslim mengerjakan shalat Maghrib dan Isya.

Sementara Kepala Kemenag yang memberikan tausiah serta Ketua MUI Kabupaten Garut yang hadir di acara bubos bisa jadi lupa untuk mengingatkan.***Yohanes/Rachmanesha